Tampilkan postingan dengan label tato tubuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tato tubuh. Tampilkan semua postingan

29 Januari 2010

Tatto Tradisi Dayak Jadi Tren Kaum Muda



Seni rajah tubuh atau Tattoo tradisional bermotif khas di kalangan suku Dayak Aoheng—juga sering disebut Dayak Penihing—yang berada di hulu Sungai Mahakam kini mulai menunjukkan era kebangkitan. Para pemuda di Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, kini lebih membanggakan (Tattoos Places) Tattoo khas Dayak sebagai tren model daripada Tattoo motif modern.

Tim Ekspedisi Lintas Barito- Muller-Mahakam pekan lalu menelusuri fenomena kebangkitan Tattoo Dayak di desa-desa yang ada di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur (Kaltim). Penelusuran dimulai dari Penyinggahan Penyungkat di hulu Sungai Sebunut hingga ke hilir tepatnya di daerah Long Bagun di tepi Sungai Mahakam.

Kecamatan Long Bagun merupakan terminal air paling hulu dan paling ramai yang dikunjungi warga dari berbagai aliran sungai. Long Bagun juga menjadi pusat transit dan pusat perdagangan bagi warga hulu Sungai Mahakam. Daerah tersebut menjadi pemberhentian terakhir kapal-kapal besar atau biasa disebut taksi Mahakam.

Hampir setiap sopir taksi air yang dijumpai selalu memiliki tattoo di bagian tubuhnya. Hal yang menarik, Tattoo-Tattoo (Tattoos Places) tersebut tidak lagi bermotif modern, melainkan bermotif tradisional. Fenomena itu menarik perhatian dua orang antropolog yang menyertai tim ekspedisi. Laurensius Ding Lie (40), yang menyebut dirinya pembuat Art Tattooo Dayak di Kampung Long Bagun Ilir, mengatakan, hampir semua pemuda di kampungnya memiliki Tattoo bermotif tradisional khas Dayak. ”Sekarang tidak ada lagi yang minta diTattoo modern seperti gambar tengkorak atau gambar modern lainnya,” katanya.

Empat motif utama yang disukai adalah motif asoe (anjing), naga, irap aran, dan anyam darli (tali beranyam). Selain tiga motif itu, masih ada ratusan motif khas Dayak yang hanya dihafal Laurensius dalam kepala dan tidak pernah didokumentasikan dalam bentuk gambar cetakan.Selama menekuni Tattoo Dayak, Laurensius memiliki banyak korespondensi dengan para ahli Tattoo dari belasan negara. ”Orang luar Indonesia sekarang juga mengejar Tattoo ini, saya punya banyak kenalan di luar negeri dan setiap bertemu mereka ingin diTattoo khas Dayak,” katanya.

Kepala Adat Kampung Long Bagun Ilir Yosep Lie Aran mengatakan, dulu Tattoo dibuat dari jelaga asap hitam damar yang dibakar. Jelaga itu dicampur dengan sari daun terong pipit. Karena itu, secara filosofis Tattoo bagi orang Dayak Aoheng (orang Kalteng menyebutnya sebagai Dayak Penihing) merupakan lentera atau lampu penerang menuju surga layaknya damar yang digunakan zaman dulu untuk penerang kegelapan. ”Jadi Tattoo bagi kami bagian dari spiritual dan tidak ada maksud untuk menjadi jagoan seperti yang dicitrakan selama ini,” kata Laurensius prihatin dengan citra Tattoo yang diidentikkan dengan kekerasan.

Tattoo Dayak memiliki simbol-simbol sakral yang secara sosial kemasyarakatan bisa menjadi penanda dari status seseorang. Karena kesakralan Tattoo Dayak tersebut, pembuat Tattoo Laurensius kini hanya mau melayani pembuatan Tattoo untuk warga Dayak. ”Orang luar Dayak bisa saja saya Tattoo, tapi saya harus tahu betul bahwa orang tersebut tidak akan menyalahgunakan Tattoo untuk gagah-gagahan,” kata Laurensius.

Antropolog dari Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis Marko Mahin dan antropolog dari Universitas Lambung Mangkurat Setia Budhi menilai kebangkitan Tattoo di kalangan muda merupakan fenomena menarik.

kompas.com

08 September 2009

Tato Memiliki Dampak Buruk Bagi Kulit

Tidak hanya kaum laki-laki, para perempuan pun marak memasang tato dengan berbagai alas an di berbagai tattoos places. Anda berniat memasang tato juga? Sebelum memutuskan, ada baiknya melihat efeknya terlebih dahulu. Pasalnya, menurut pakar dermatologi, tato juga bisa menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari alergi hingga infeksi hepatitis. Berikut beberapa fakta seputar tato sebagai bahan pertimbangan Anda dalam menentukan pilihan

Apa manfaat tato? Pada dasarnya, ada dua alasan utama mengapa orang membuat tato, untuk menggambarkan kepribadian dan keunikan atau menunjukkan keanggotaan dari suatu kelompok. Apakah Anda perlu membuat tato juga? Menurut pakar dermatologi Jonette Keri , MD , PhD., Anda tidak memerlukan tato.


Risiko pembuatan tato
Tato amatir

Jenis ini biasanya dibuat secara pribadi atau oleh teman dengan menusukkan tinta, arang kayu, atau debu ke bawah kulit dengan menggunakan peniti. Biasanya, karena dilakukan pada lingkungan yang kurang bersih dan dengan pigmen yang tidak standar, risiko infeksinya juga lebih besar.


Infeksi


Apapun jenis tato yang Anda gunakan, semuanya memiliki risiko. Risiko yang paling serius adalah infeksi yang bersifat mengancam kehidupan seperti HIV atau hepatitis C. Infeksi ini berasal dari jarum yang tidak bersih. Selain itu, bisa juga menimbulkan infeksi yang memicu penyakit kulit.


Reaksi alergi


Selain infeksi, tato juga bisa menimbulkan alergi akibat pigmen yang digunakan, khususnya pigmen merah. Di samping itu, bisa juga menimbulkan reaksi peradangan dan luka pada jaringan sebagai reaksi terhadap pewarna atau komponen besi yang dimasukkan ke dalam kulit. Kadang-kadang juga bisa menyebabkan dermatitis. Walaupun telah diberi
cream massage yang “katanya” menjinakkan alergi kulit.


Tato yang bersifat sementara juga berisiko


Pembuatan tato dengan henna merupakan alternatif dari tato permanen. Akan tetapi, bukan berarti tato ini bebas dari reaksi alergi. Jika hendak menggunakan henna, pastikan Anda tidak menggunan henna hitam atau biru. Warna hitam seringkali nerasal dari aspal cair yang bisa memicu reaksi alergi kronis. Pada dasarnya, henna dari tumbuhan hanya diterima oleh FDA untuk mewarnai rambut, bukan untuk menghias kulit.


Risiko pengangkatan tato
Reaksi alergi

Laser akan memecah pigmen tato dan meningkatkan risiko alergi. Teknik laser biasanya menimbulkan bekas lepuhan. Tapi, bekas lepuhan ini akan membaik seiring dengan perawatan selanjutnya.


Bekas luka


Tidak semua tato bisa diangkat dengan sempurna. Pemindahan tato dengan laser seringkali menimbulkan goresan bekas luka. Begitu juga dengan pengangkatan tato secara manual baik menggunakan setrika, pisau atau bahkan menggunakan batu semacam batu landak/
bezoar stone yang agak kasar lalu menggosokkan ke bagian tubuh yang bertato.


www.mediaindonesia.com


Dukung Kampanye
Stop Dreaming Start Action Sekarang